H. Ichsan Yasin Limpo Kontrak Politik Model Ichsan Yasin Limpo |
MENGUMBAR janji, sudah lumrah dilakukan para calon bupati, calon gubernur atau bahkan calon presiden. Kebanyakan memang hanya berisi “rayuan gombal”. Tapi, janji politik model H. Ichsan Yasin Limpo tidak ada duanya.
Sebelum dilantik menjadi Bupati Gowa, Sulawesi Selatan, 13 Agustus 2005, pria yang bebas isu narkoba atau maksiat sekeluarga itu sudah menyerahkan surat permohonan mengundurkan diri kepada DPRD Gowa. Dalam surat itu dengan tegas ia menyatakan : “Dalam tempo setahun setelah dilantik selaku bupati, jika aku tidak berhasil melaksanakan kontrak politik saya kepada rakyat Gowa, saya dengan ini mengundurkan diri dari jabatan bupati …..” demikian antara lain janji suami dari H. Novita Madonza Amu yang telah memberinya tiga putra dan satu putri itu.
Apa sih, janji-janji alias “kontrak politik” yang dikumandangkan Ichsan dalam masa kampanye pemilihan langsung Bupati/Wakil Bupati Gowa 2005 tersebut ? Pertama, pria yang selalu tampil berkopiah hitam tersebut akan membangun 154 buah Sanggar Pendidikan Anak Saleh, yaitu sarana pendidikan untuk anak-anak putus sekolah, atau bagi mereka yang tidak berhasil melanjutkan sekolah karena kekurangan biaya.
Kedua, akan membangun 77 Puskesmas Pembantu (Pustu) untuk memperluas jangkauan pelayanan kesehatan yang murah kepada masyarakat luas yang jauh dari lokasi Puskesmas atau jauh dari rumah sakit. Dan, yang ketiga ia akan memberi bantuan atau subsidi kepada 28.600 murid SD dari keluarga kurang mampu/pra sejahtera.
Apakah kontrak pol;itik itu berlaku untuk jangka waktu lima tahun masa jabatan ? “Tidak, saya memang targetkan sampai satu tahun saja. Dan, ternyata dengan partisipasi segenap unsur masyarakat Gowa, dan tentu saja atas Ridha Allah, saya berhasil menunaikan kontrak politik saya itu dalam tempo antara delapan - sembilan bulan !”, ungkapnya.
Dalam suatu perbincangan di kamar kerjanya tepat dua tahun setelah dilantik menjadi Bupati Gowa, 13 Agustus 2007, pria kelahiran Makassar 9 Maret 1961 tersebut memaparkan : Sebelum setahun menjadi bupati, ia telah membangun 155 buah Sanggar Anak Saleh (dari target 154), yaitu sebuah sanggar pada setiap desa/kelurahan di Kabupaten Gowa.
Ichsan juga sudah membangun 108 buah Pustu (dari target 77), sehingga ditambah dengan Pustu yang sudah ada sebelumnya, maka nyaris tersedia satu Pustu pada setiap desa/kelurahan di seluruh wilayah Kabupaten Gowa.
Tentang janji untuk mensubsidi anak SD dari keluarga miskin, sang Bupati sejak tahun ajaran 2006/2007 telah menyediakan buku-buku wajib secara gratis kepada 37.600 murid SD di Gowa (dari target 28.600 murid) dari keluarga pra sejahtera.
Dengan demikian surat permohonan pengunduran dirinya, sebenarnya sudah bisa diabaikan oleh DPRD dan rakyat Gowa. Karena, semua kontrak politiknya itu melampaui target, yakni tercapai sebelum 13 Agustus 2006.
Kemiskinan dan kebodohan
Pertama kali terlibat dalam penyusunan RAPBD tahun 2006, Ichsan langsung memasok anggaran pendidikan 18,2 persen. Kemudian dalam rapat perubahan anggaran di DPRD, sektor pendidikan ditambah lagi dua persen, sehingga mungkin Gowa-lah yang menjadi kabupaten pertama di Tanah Air yang memasok dana pendidikan sebesar 20 persen dari APBD.
Tahun 2007, dalam APBD Gowa, sektor pendidikan memperoleh lagi dana anggaran 20,59 persen dari total APBD. “Ini di luar gaji guru dan juga di luar dana pendidikan/pelatihan SDM bagi para guru dan karyawan dinas pendidikan,” demikian anak keempat dari pasangan suami-isteri HM Yasin Limpo dan H. Nurhayati tersebut.
Ichsan sudah tiga kali berturut-turut mendapat penghargaan dari menteri pendidikan nasional karena perhatiannya yang demikian besar terhadap pendidikan, terutama pendidikan non-formal. Tahun 2005 ia memperoleh Anugerah Pratama dalam suatu upacara di Solo. Tahun 2006 ia meraih lagi Anugerah Madya dalam suatu upacara di Probolinggo. Lalu, 8 September 2007 Ichsan meraih lagi Anugerah Utama yang diserahkan langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam suatu upacara di Mataram, NTB.
Dalam APBD Gowa 2007, sektor pendidikan luar sekolah mendapat alokasi dana sebesar Rp 10,8 milyar. Ini jumlah yang besar sekali, mengingat pendapatan asli daerah (PAD) Gowa hanya berkisar Rp 28 milyar setahun (bandingkan Kabuparten Badung, Bali misalnya dengan PAD berkisar Rp 500 milyar).
Tentang perhatiannya yang demikian besar terhadap pendidikan, Ichsan mengatakan, “Saya sependapat dengan para ahli yang mengatakan, kebohan identik dengan kemiskinan. Sebab orang cerdas tentu mampu melepaskan diri dari cengkeraman kemiskinan.”
Mengenai perhatiannya yang juga amat besar terhadap sektor kesehatan, Ichsan mengemukakan semboyan olahraga : “Di dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang sehat. Bagaimana bisa bangsa ini produktif, kalau kondisi rakyatnya kurang sehat atau sakit-sakitan. Jadi, apa yang saya lakukan ini, tidak lain terpulang ke tujuan proklamasi kemerdekaan, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan guna mensejahterakan rakyat. Semua itu pasti bernilai ibadah di sisi Allah SWT.”
Malino, The Flower City
Sarjana hukum alumnus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar tahun 2004 tersebut berasal dari keluarga Bugis/Makassar yang terpandang. Ayahnya, HM Yasin Limpo adalah pensiunan Kolonel TNI/AD, mantan lasykar Perang Kemerdekaan. Yasin berasal dari Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa (etnis Makassar). Sementara ibu kandung Ichsan, wanita karier bernama H. Nurhayati dari Kabupaten Sidrap (etnis Bugis). Nurhayati saat ini anggota DPR, yang dijalani dalam dua periode.
Ichsan sendiri sebelum menjadi Bupati Gowa adalah anggota DPRD Sulsel periode 1999 – 2004 dan periode 2004 – 2009. Ia mengundurkan diri pada tahun 2005 karena mencalonkan diri menjadi Bupati Gowa.
Awal Juli 2007, mumcul gagasan Ichsan YL untuk mengembangkan Malino, salah satu wilayah pegunungan Kabupaten Gowa, menjadi sebuah kota bunga, the flower City. “Ini di luar kontrak politik. Tapi, saya berobsesi, beberapa tahun mendatang di Malino setiap tahunnya akan berlangsung Festival of Flowers, suatu event internasional, yang sama halnya dengan sebuah kota kecil di Amerika, Pasadena yang terkenal dengan Festival of Roses-nya setiap tahun baru. Bunga akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk berkunjung ke Gowa. Dari bunga, kita harapkan meningkat pelancung dan wisatawan ke Malio. Dari dari bunga pula, akan meningkat pendapatan rakyat dan penghasilan pemda,” kata adik kandung Syahrul Yasin Limpo (mantan Bupati Gowa 1993 – 2003) dan sekarang Wakil Gubernur Sulsel, yang sedang mengikuti pencalonan dalam pilkada Gubernur Sulsel periode 2007-2012.
Malino saat ini status administrasinya hanyalah sebuah kelurahan dalam wilayah Kecamatan Tinggi Moncong (moncong dalam bahasa Makassar artinya gunung atau bukit). Luasnya sekitar 300-an ha (di luar kawasan hutan) dengan jumlah rumah/villa tidak sampai 1.000 buah, kebanyakan milik warga Makassar. Kota kecil tersebut selama ini dikenal sebagai kota bersejarah, serta tempat rekreasi dan peristirahatan yang sejuk. Dan Malino juga menjadi pusat pertanaman buah markisa di Sulsel, sehingga menjadikan sirop/juice markisa menjadi ole-ole khas dari kota Anging Mammiri.
Malino dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1927 sebagai tempat peristirahatan bagi orang-orang bule dan keluarganya yang tinggal di Makassar. Malino berhawa sejuk, karena letaknya 1.050 meter dari permukaan laut. Tentu saja dengan ketinggian seperti itu menandakan Malino berlokasi di lereng gunung, tepatnya di lereng dua gunung kembar, Lompobattang dan Bawakaraeng.
Sesungguhnya kawasan puncak di Gowa tidak kalah luasnya dari kawasan puncak yang ada di Bogor, Jawa Barat. Luas kawasan puncak di Sulsel tersebut mulai dari Malino di Kabupaten Gowa sampai di bagian barat Kabupaten Sinjai, panjangnya lebih dari 100 km. Tapi, yang telah tertata dengan apik, barulah Malino yang terletak 77 km dari Makassar.
Bahwa Malino kota bersejarah, tercatat antara lain, pada 15 Juli 1946 berlangsung Konfrensi Malino yang melahirkan Republik Indonesia Serikat. Di Malinolah lahir Negara Indonesia Timur (NIT). Bahkan Perjanjian Bungaya antara Belanda dengan Sultan Hasanuddin tahun 1667 juga terjadi di Malino.
Malino pun menjadi saksi sejarah sebagai lokasi perundingan penyelesaian Kasus Poso (di Malino19 – 20 Desember 2001) dan perdamaian “Perang Ambon” (juga di Malino 11 – 12 Februari 2002).
Malino yang selama ini menjadi salah satu pemasok sayur-mayur dan buah-buahan bagi kota Makassar, ternyata juga berpotensi menghasilkan aneka jenis kembang. Menurut bupati, keinginannya menjadikan Malino, the flower City – antara lain dipicu oleh seorang ahli bunga dari Belanda, Gerard Van Recht yang mengatakan bahwa 70 persen species bunga dunia ada di Malino.
Karena itulah, awal Agustus lalu Ichsan mengirim dua orang staf teknik Pemda Gowa untuk belajar tentang bunga di Negeri Belanda. “Mereka berada di Belanda sebagai tamu dari sebuah yayasan pensiunan. Mereka berdua telah mempelajari berbagai hal tentang bunga, pertamanan dan land scaping.
Setelah mereka kembali dari Belanda akhir September ini, barulah kami akan menyusun suatu proposal dan program menjadikan Malino, the flower city. (Fahmy Myala, wartawan tinggal di Makassar).
