26 November 2007

Janji Bupatiku

H. Ichsan Yasin Limpo
Kontrak Politik Model Ichsan Yasin Limpo

Lahir di Makassar, 09 Maret 1961

MENGUMBAR janji, sudah lumrah dilakukan para calon bupati, calon gubernur atau bahkan calon presiden. Kebanyakan memang hanya berisi “rayuan gombal”. Tapi, janji politik model H. Ichsan Yasin Limpo tidak ada duanya.

Sebelum dilantik menjadi Bupati Gowa, Sulawesi Selatan, 13 Agustus 2005, pria yang bebas isu narkoba atau maksiat sekeluarga itu sudah menyerahkan surat permohonan mengundurkan diri kepada DPRD Gowa. Dalam surat itu dengan tegas ia menyatakan : “Dalam tempo setahun setelah dilantik selaku bupati, jika aku tidak berhasil melaksanakan kontrak politik saya kepada rakyat Gowa, saya dengan ini mengundurkan diri dari jabatan bupati …..” demikian antara lain janji suami dari H. Novita Madonza Amu yang telah memberinya tiga putra dan satu putri itu.

Apa sih, janji-janji alias “kontrak politik” yang dikumandangkan Ichsan dalam masa kampanye pemilihan langsung Bupati/Wakil Bupati Gowa 2005 tersebut ? Pertama, pria yang selalu tampil berkopiah hitam tersebut akan membangun 154 buah Sanggar Pendidikan Anak Saleh, yaitu sarana pendidikan untuk anak-anak putus sekolah, atau bagi mereka yang tidak berhasil melanjutkan sekolah karena kekurangan biaya.

Kedua, akan membangun 77 Puskesmas Pembantu (Pustu) untuk memperluas jangkauan pelayanan kesehatan yang murah kepada masyarakat luas yang jauh dari lokasi Puskesmas atau jauh dari rumah sakit. Dan, yang ketiga ia akan memberi bantuan atau subsidi kepada 28.600 murid SD dari keluarga kurang mampu/pra sejahtera.

Apakah kontrak pol;itik itu berlaku untuk jangka waktu lima tahun masa jabatan ? “Tidak, saya memang targetkan sampai satu tahun saja. Dan, ternyata dengan partisipasi segenap unsur masyarakat Gowa, dan tentu saja atas Ridha Allah, saya berhasil menunaikan kontrak politik saya itu dalam tempo antara delapan - sembilan bulan !”, ungkapnya.

Dalam suatu perbincangan di kamar kerjanya tepat dua tahun setelah dilantik menjadi Bupati Gowa, 13 Agustus 2007, pria kelahiran Makassar 9 Maret 1961 tersebut memaparkan : Sebelum setahun menjadi bupati, ia telah membangun 155 buah Sanggar Anak Saleh (dari target 154), yaitu sebuah sanggar pada setiap desa/kelurahan di Kabupaten Gowa.

Ichsan juga sudah membangun 108 buah Pustu (dari target 77), sehingga ditambah dengan Pustu yang sudah ada sebelumnya, maka nyaris tersedia satu Pustu pada setiap desa/kelurahan di seluruh wilayah Kabupaten Gowa.

Tentang janji untuk mensubsidi anak SD dari keluarga miskin, sang Bupati sejak tahun ajaran 2006/2007 telah menyediakan buku-buku wajib secara gratis kepada 37.600 murid SD di Gowa (dari target 28.600 murid) dari keluarga pra sejahtera.

Dengan demikian surat permohonan pengunduran dirinya, sebenarnya sudah bisa diabaikan oleh DPRD dan rakyat Gowa. Karena, semua kontrak politiknya itu melampaui target, yakni tercapai sebelum 13 Agustus 2006.

Kemiskinan dan kebodohan

Pertama kali terlibat dalam penyusunan RAPBD tahun 2006, Ichsan langsung memasok anggaran pendidikan 18,2 persen. Kemudian dalam rapat perubahan anggaran di DPRD, sektor pendidikan ditambah lagi dua persen, sehingga mungkin Gowa-lah yang menjadi kabupaten pertama di Tanah Air yang memasok dana pendidikan sebesar 20 persen dari APBD.

Tahun 2007, dalam APBD Gowa, sektor pendidikan memperoleh lagi dana anggaran 20,59 persen dari total APBD. “Ini di luar gaji guru dan juga di luar dana pendidikan/pelatihan SDM bagi para guru dan karyawan dinas pendidikan,” demikian anak keempat dari pasangan suami-isteri HM Yasin Limpo dan H. Nurhayati tersebut.

Ichsan sudah tiga kali berturut-turut mendapat penghargaan dari menteri pendidikan nasional karena perhatiannya yang demikian besar terhadap pendidikan, terutama pendidikan non-formal. Tahun 2005 ia memperoleh Anugerah Pratama dalam suatu upacara di Solo. Tahun 2006 ia meraih lagi Anugerah Madya dalam suatu upacara di Probolinggo. Lalu, 8 September 2007 Ichsan meraih lagi Anugerah Utama yang diserahkan langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam suatu upacara di Mataram, NTB.

Dalam APBD Gowa 2007, sektor pendidikan luar sekolah mendapat alokasi dana sebesar Rp 10,8 milyar. Ini jumlah yang besar sekali, mengingat pendapatan asli daerah (PAD) Gowa hanya berkisar Rp 28 milyar setahun (bandingkan Kabuparten Badung, Bali misalnya dengan PAD berkisar Rp 500 milyar).

Tentang perhatiannya yang demikian besar terhadap pendidikan, Ichsan mengatakan, “Saya sependapat dengan para ahli yang mengatakan, kebohan identik dengan kemiskinan. Sebab orang cerdas tentu mampu melepaskan diri dari cengkeraman kemiskinan.”

Mengenai perhatiannya yang juga amat besar terhadap sektor kesehatan, Ichsan mengemukakan semboyan olahraga : “Di dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang sehat. Bagaimana bisa bangsa ini produktif, kalau kondisi rakyatnya kurang sehat atau sakit-sakitan. Jadi, apa yang saya lakukan ini, tidak lain terpulang ke tujuan proklamasi kemerdekaan, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan guna mensejahterakan rakyat. Semua itu pasti bernilai ibadah di sisi Allah SWT.”

Malino, The Flower City

Sarjana hukum alumnus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar tahun 2004 tersebut berasal dari keluarga Bugis/Makassar yang terpandang. Ayahnya, HM Yasin Limpo adalah pensiunan Kolonel TNI/AD, mantan lasykar Perang Kemerdekaan. Yasin berasal dari Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa (etnis Makassar). Sementara ibu kandung Ichsan, wanita karier bernama H. Nurhayati dari Kabupaten Sidrap (etnis Bugis). Nurhayati saat ini anggota DPR, yang dijalani dalam dua periode.

Ichsan sendiri sebelum menjadi Bupati Gowa adalah anggota DPRD Sulsel periode 1999 – 2004 dan periode 2004 – 2009. Ia mengundurkan diri pada tahun 2005 karena mencalonkan diri menjadi Bupati Gowa.

Awal Juli 2007, mumcul gagasan Ichsan YL untuk mengembangkan Malino, salah satu wilayah pegunungan Kabupaten Gowa, menjadi sebuah kota bunga, the flower City. “Ini di luar kontrak politik. Tapi, saya berobsesi, beberapa tahun mendatang di Malino setiap tahunnya akan berlangsung Festival of Flowers, suatu event internasional, yang sama halnya dengan sebuah kota kecil di Amerika, Pasadena yang terkenal dengan Festival of Roses-nya setiap tahun baru. Bunga akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk berkunjung ke Gowa. Dari bunga, kita harapkan meningkat pelancung dan wisatawan ke Malio. Dari dari bunga pula, akan meningkat pendapatan rakyat dan penghasilan pemda,” kata adik kandung Syahrul Yasin Limpo (mantan Bupati Gowa 1993 – 2003) dan sekarang Wakil Gubernur Sulsel, yang sedang mengikuti pencalonan dalam pilkada Gubernur Sulsel periode 2007-2012.

Malino saat ini status administrasinya hanyalah sebuah kelurahan dalam wilayah Kecamatan Tinggi Moncong (moncong dalam bahasa Makassar artinya gunung atau bukit). Luasnya sekitar 300-an ha (di luar kawasan hutan) dengan jumlah rumah/villa tidak sampai 1.000 buah, kebanyakan milik warga Makassar. Kota kecil tersebut selama ini dikenal sebagai kota bersejarah, serta tempat rekreasi dan peristirahatan yang sejuk. Dan Malino juga menjadi pusat pertanaman buah markisa di Sulsel, sehingga menjadikan sirop/juice markisa menjadi ole-ole khas dari kota Anging Mammiri.

Malino dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1927 sebagai tempat peristirahatan bagi orang-orang bule dan keluarganya yang tinggal di Makassar. Malino berhawa sejuk, karena letaknya 1.050 meter dari permukaan laut. Tentu saja dengan ketinggian seperti itu menandakan Malino berlokasi di lereng gunung, tepatnya di lereng dua gunung kembar, Lompobattang dan Bawakaraeng.

Sesungguhnya kawasan puncak di Gowa tidak kalah luasnya dari kawasan puncak yang ada di Bogor, Jawa Barat. Luas kawasan puncak di Sulsel tersebut mulai dari Malino di Kabupaten Gowa sampai di bagian barat Kabupaten Sinjai, panjangnya lebih dari 100 km. Tapi, yang telah tertata dengan apik, barulah Malino yang terletak 77 km dari Makassar.

Bahwa Malino kota bersejarah, tercatat antara lain, pada 15 Juli 1946 berlangsung Konfrensi Malino yang melahirkan Republik Indonesia Serikat. Di Malinolah lahir Negara Indonesia Timur (NIT). Bahkan Perjanjian Bungaya antara Belanda dengan Sultan Hasanuddin tahun 1667 juga terjadi di Malino.

Malino pun menjadi saksi sejarah sebagai lokasi perundingan penyelesaian Kasus Poso (di Malino19 – 20 Desember 2001) dan perdamaian “Perang Ambon” (juga di Malino 11 – 12 Februari 2002).

Malino yang selama ini menjadi salah satu pemasok sayur-mayur dan buah-buahan bagi kota Makassar, ternyata juga berpotensi menghasilkan aneka jenis kembang. Menurut bupati, keinginannya menjadikan Malino, the flower City – antara lain dipicu oleh seorang ahli bunga dari Belanda, Gerard Van Recht yang mengatakan bahwa 70 persen species bunga dunia ada di Malino.

Karena itulah, awal Agustus lalu Ichsan mengirim dua orang staf teknik Pemda Gowa untuk belajar tentang bunga di Negeri Belanda. “Mereka berada di Belanda sebagai tamu dari sebuah yayasan pensiunan. Mereka berdua telah mempelajari berbagai hal tentang bunga, pertamanan dan land scaping.

Setelah mereka kembali dari Belanda akhir September ini, barulah kami akan menyusun suatu proposal dan program menjadikan Malino, the flower city. (Fahmy Myala, wartawan tinggal di Makassar).

SPAS Jadi Acuan Nasional

Jumat, 23 Pebruari 2007 17:22:2

Sanggar Pendidikan Anak Saleh (SPAS) yang ada di Kabupaten Gowa patut berbangga. Pasalnya, program pendidikan luar sekolah yang dicetuskan Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo ini menjadi salah satu acuan nasional pendidikan anak usia dini (PAUD).
Buktinya, metode pembelajaran SPAS telah dituangkan dalam buku pedoman teknis penyelenggara pos PAUD yang diterbitkan Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Departemen Pendidikan Nasional tahun 2006.

Kepala Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Gowa, Idris Faisal Kadir, mengatakan, setiap dilaksanakan sosialisasi PLS, SPAS sering menjadi bahan pembicaraan. Dan selalu ditunjukkan bahwa SPAS telah berjalan sukses di Kabupaten Gowa.
"Ini menjadi salah satu kebanggaan kita. Pak Bupati jug sudah mengetahui dan menyatakan kebanggaannya. Ia hanya berharap kita semua menjaga agar program SPAS bisa terus berjalan dengan terus melakukan peningkatan kualitas anak didik yang dihasilkan," katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (24/1).
Selain itu, kata Idris, Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Gowa juga menjadi SKB terbaik di wilayah V Indonesia timur. Keberadaan SKB ini juga harus dipertahankan dengan melakukan terobosan terus menerus.
Pendidikan Gratis
SPAS merupakan program pendidikan alternatif bagi anak-anak usia produktif. SPAS memberikan bimbingan dengan penekanan pada perbaikan akhlak dan nilai-nilai agama serta budaya. Muatan agama diberikan sekitar 60 persen dan selebihnya pengetahuan umum.
Siswa direkrut secara gratis dari anak keluarga kurang mampu, terbelakang di sekolahnya, dan anak-anak putus sekolah. SPAS juga diharapkan menjadi sarana perpustakaan bagi desa karena sejumlah buku telah disiapkan di gedung SPAS. (ute)

Pengelola SPAS Bertugas Evaluasi Tutor

Sungguminasa (Fajar6/11/07 ). Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Gowa membentuk pengelola Sanggar Pendidikan Anak Saleh (SPAS) mulai tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Tugas pengelola sangat banyak dan cukup vital. Satu di antaranya mengevaluasi kinerja tutor atau pengajar SPAS.Demikian Kepala Dinas (Kadis) Diknas Gowa, Idris Faisal Kadir Dalle di ruang kerjanya, akhir pekan lalu.

Selain mengevaluasi tutor, pengelola juga mengawasi proses belajar mengajar di SPAS. “Bagi pengelola tingkat desa, tugasnya cukup berat karena diminta menyelesaikan masalah tanah yang administrasinya belum tuntas. Itu penting sebagai antisipasi munculnya persoalan di kemudian hari,” katanya.

Tugas pengelola SPAS lainnya, seperti menjaga aset SPAS. Mereka juga membantu anak putus sekolah atau masyarakat tak mampu bisa masuk SPAS.

Untuk pengelola SPAS cukup banyak. Tingkat desa saja, ada 300 orang yang tersebar di 154 desa/kelurahan (masing-masing desa/kelurahan dua orang).

Kemudian tingkat kabupaten sebanyak 12 orang dan kecamatan 54 orang pengelola. Khusus tutor atau pengajar tambahnya, sebanyak 462 orang. Mereka tersebar di 154 desa/kelurahan dari 18 kecamatan. (ram)

Mei, Dirjen PLS Hadiri Ujian SPAS Tahap I

Selasa, 17-04-2007

GOWA, BKM-- Mei mendatang, rencana pelaksanaan ujian bagi santri sanggar pendidikan anak saleh (SPAS) tahap I dilaksanakan. Sekaitan rencana tersebut, Dirjen PLS, Ace Suryadi, akan menghadiri pelaksanaan ujian tahap I tersebut.
Bakal kedatangan Dirjen PLS tersebut dibenarkan Kadis Diknas Gowa, Idris Faisal Kadir, SH. Saat ditemui di ruang kerjanya, baru-baru ini, Idris mengatakan, kesiapan hadir tersebut disampaikan Dirjen PLS disela acara rembuk nasional yang dihadirinya belum lama ini.
Selain Dirjen PLS, Idris juga mengantongi kesiapan Direktur PAUD DR Gautama dan Prof Anwar Arifin. ''Sudah ada tiga orang yang menyatakan siap menghadiri ujian SPAS tahap I ini,'' ucap Idris yang begitu bangga karena program cetusan Bupati Gowa, H Ichsan YL, SH, ini menjadi percontohan pendidikan luar sekolah secara nasional.
Terkait dengan persiapan pelaksanaan ujian SPAS tersebut, menurut Idris, sejak kini para pengelola SPAS di masing-masing wilayah telah melakukan berbagai evaluasi dini. (sar/bud)

Resmikan Gedung P2TP2A, Meutia Minum Sara'ba Instan


GOWA, BKM-- Perempuan jangan terlalu cepat puas pada satu keahlian saja. Demikian penegasan yang dilontarkan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (PP), Prof Dr Meutia Hatta Swasono disela kunjungan kerjanya di Kab. Gowa dalam rangka penyerahan simbolik Surat Keterangan Melek Aksara (Sukma) angkatan 2007 yang berlangsung di Baruga Krg Galesong Pemkab Gowa, Rabu (14/11) kemarin.
Menteri PP yang datang didampingi Deputi Bidang Kualitas Hidup Perempuan, Setiawati dan Deputi Bidang Organisasi Wanita, Kasmah serta rombongan, menegaskan agar kaum perempuan mulai sekarang harus memikirkan diri untuk bebas dari buta aksara. Sangat disayangkan, kata Meutia, jika perempuan sudah buta aksara ditambah lagi kualitas SDMnya rendah maka akan sangat tidak berguna dalam upaya membantu suami dari bebannya menanggung hidup keluarga.
''Perempuan harus punya pendidikan. Tapi tidak serta merta harus menjadi pegawai kantoran. Sangat riskan jika perempuan tidak terdidik, kira-kira bagaimana caranya mendidik dengan baik anak-anaknya. Pendidikan non formal dalam bentuk pengentasan buta aksara seperti yang diterapkan di Gowa ini, akan bermanfaat besar bagi peningkatan kemampuan bidang ekonomi masyarakat. Tanpa menjadi pegawai kantoran, perempuan bisa berakses keluar melalui internet. Kualitas seperti inilah yang kita cari, sehingga kaum perempuan tidak akan terkebelakang,'' kilah Meutia yang membagikan Sukma kepada sejumlah perwakilan peserta didik buta aksara usia produktif se Kab. Gowa.
Sementara itu, Bupati H Ichsan YL, SH, yang sempat memperkenalkan batik motif warna coklat yang dikenakannya kemarin sebagai hadiah dari Menteri PP Meutia itu, mengatakan, saat ini Gowa sedang eksis menggenjot peningkatan mutu pendidikan melalui berbagai pola, baik dalam bentuk warga belajar melek aksara usia produktif, SPAS (sanggar pendidikan anak saleh) serta pengembangan TK-TPA.
Karena keeksisan itu, maka Kab. Gowa tidak canggung mengalokasikan 20 persen dari dana APBD untuk anggaran pendidikan. Saat ini kata, Bupati, jumlah penduduk Gowa usia produktif (15-44 tahun) yang buta huruf sebanyak 23.466 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 13.500 orang akan dituntaskan menjadi melek aksara yang terdiri dari 9.000 orang melalui sumber dana APBN dan 3.500 orang melalui APBD tahun 2007. Sedangkan sisanya sebanyak 9.946 orang akan dituntaskan seluruhnya pada kurun 2008. Pendidikan melek aksara ini, tambah Bupati, yang dikerjasamakan Pemkab dengan PKK dan Kaukus Perempuan yang mulai dibuka 2006 membina sebanyak 64 kelompok
dan tahun 2007 ini membina 47 kelompok.
Usai menguji sejumlah peserta melek aksara dengan mengetesnya menuliskan kalimat yang dilontarkan Meutia sendiri, sosok Menteri SBY yang tampil sederhana langsung meresmikan penggunaan gedung P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) yang dikelola Pemkab dibawah pembinaan Bagian Keskel dan Pemberdayaan Perempuan Kab. Gowa.
Di gedung yang sempat disambut dengan tarian 'Pakkurru Sumanga' itu, Meutia juga menandatangani prasasti tanda peresmian, menanam pohon dan memotong nasi tumpeng serta meninjau sejumlah stand pameran kelompok usaha perempuan yang ada. (sar)

Jaringan Cyber Village di Kabupaten Gowa

Pemasangan dan Instalasi Perangkat Jaringan Cyber Village di Kabupaten Gowa

Gowa - Setelah menyelesaikan Survey pada titik-titik koneksi Cyber Village maka pada hari Minggu tanggal 06 Mei 2006 dimulai pemasangan dan instalasi jaringan cyber village di Kabupaten Gowa. Untuk Kabupaten Gowa ini terdapat dua titik koneksi yaitu di SPAS (Sanggar Pendidikan Anak Saleh) Postaka Dasa “To Caradde” di Kelurahan Sungguminasa Kecamatan Sungguminasa dan PKBM Julukanaya di Kelurahan Pangkabinanga Kecamatan Pallangga. Pelaksanaan instalasi Jaringan Wireless Cyber Village ini dilakukan oleh Tim Teknis Cyber Village BPPLSP Regional V Makassar dibantu oleh Konsultan Jaringan BPPLSP Regional V dan Jardiknas serta Mahasiswa D3 TKJ Jardiknas UNHAS.

Kedua titik Cyber Village yang berlokasi di Kabupaten Gowa ini mengambil koneksi dari ICT Centre kabupaten Gowa yang berpusat di SMK Somba Opu Sungguminasa. Kedua link ini sudah dapat dipantau dan diakses pada pusat monitoring Cyber Village yang ada di BPPLSP Regional V Makassar.

Pelaksanaan Instalasi ini merupakan rangkaian link dari desa-desa yang ada di 3 (tiga) Kabupaten, yaitu; Kabupaten Gowa, Polmas dan Bulukumba yang menjadi pusat pengembangan Cyber Village. Setelah Kabupaten Gowa ini, rencananya pemasangan dan instalasi akan dilanjutkan di Kabupaten Polmas Sulawesi Barat dan dilanjutkan di Kabupaten Bulukumba.

Lima Bulan Memimpin, Raih Anugerah Aksara


H Ichsan Yasin Limpo, Bupati Gowa

PRESTASI yang diraih Pemerintah Kabupaten Gowa dalam bidang pendidikan non formal memberikan apresiasi tersendiri bagi H Ichsan Yasin Limpo, untuk terus memberikan konstribusi agar Gowa bisa ikut serta dalam memajukan pendidikan di Indonesia.
Penghargaan yang diberikan pemerintah pusat merupakan yang kali ketiga. Pertama tahun 2005 di Solo, berupa anugerah aksara pratama, kedua di Probolinggo tahun 2006 berupa aksara anugerah madya dan ketiga Mataram, NTB tahun 2007 berupa penghargaan aksara anugerah utama. ''Mudah-mudahan tahun depan, prestasi seperti kembali diraih,'' katanya.

Sebagai daerah satu-satunya yang meraih penghargaan aksara anugerah utama di Kawasan Timur Indonesia (KTI), apa yang telah dilakukannya selama ini. Berikut petikan wawancara wartawan Harian Fajar Arifuddin Saeni dengan Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo, Rabu, 12 September, di ruang kerjanya.

Selamat atas penghargaan yang diberikan pemerintah pusat baru-baru ini?

Terima kasih, mudah-mudahan dengan penghargaan ini akan semakin memicu kami semua untuk terus memajukan dunia pendidikan non formal secara khusus dan formal secara umum.

Terkait dengan penghargaan yang Anda terima, berupa anugera aksara utama, dimana penghargaan ini hanya Gowa dari Kawaan Indonesia Timur. Apa yang Anda lakukan selama ini?

Perlu saya jelasnya, bahwa ketika penghargaan pertama, anugerah aksara pratama yang diberikan pemerintah pusat membuat saya kaget, bahwa apakah penilaian itu dilakukan secara objektif atau tidak.

Kenapa bisa begitu?

Ada perasaan berdosa dalam diri saya, bahwa penghargaan yang diberikan itu merupakan lobi yang dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan Nasional Gowa waktu itu, Idris Faisal Kadir, untuk mendapatkan penghargaan anugerah aksara pratama itu. Malah, ketika mendapatkan undangan untuk menerima penghargaan itu ke Solo. Terus terang saya sama sekali tidak hepy, malah tidak senang. Mengapa? Karena jabatan saya waktu itu baru lima bulan. Loh kok bisa dapat penghargaan seperti ini.

Lalu kesadaran itu kapan muncul, bahwa penghargaan itu benar-benar penilaiannya cukup objektif?

Itu setelah adanya penjelasan dari Dirjen PLS, Acep Sutjadi Ph.D, kalau penghargaan tersebut diawali dari komitmen calon bupati terhadap pendidikan luar sekolah (PLS) yang tertuang dalam visi misi. Ini juga harus dibuktikan dalam bentuk penempatan anggaran, termasuk dalam rencana kerja tahunan. Tapi yang lebih penting adanya pengalokasian anggaran PLS dalam APBD.

Nah, untuk mendapatkan anugerah aksara pratama, maka pemerintah kabupaten harus menempatkan anggaran dalam APBD minimal Rp650 juta khusus pendidikan luar sekolah, tentunya ditambah dengan beberapa syarat lainnya.

Tapi alokasi anggaran yang Anda masukkan dalam APBD untuk pendidikan luar sekolah kan cukup besar?

Iya memang. Justru ketika dalam perbincangan saya dengan Dirjen PLS, secara berkelakar mengatakan, kalau ini menjadi indikator, maka Gowa akan mendapatkan penghargaan anugerah aksara tiap tahun. Sebab saat itu saja, tahun 2005 kita lekatkan anggaran sebesar Rp8,6 M, saat diluncurkannya program sanggar pendidikan anak saleh (SPAS).

Apakah menurut Anda ini mempunyai korelasi positif dengan masih banyaknya buta aksara dan angka kemiskinan?

Iya tentu saja. Dengan mendorong secara terus menerus pendidikan luar sekolah diharapkan akan menekan angka kemiskinan di Gowa sebesar 35,12 persen. Sebab, anak-anak itu bukan hanya miskin ekonomi saja, tapi juga miskin karena pendidikan. Jadi bagaimana mengubah mereka menjadi tidak miskin tentunya lewat pendidikan, memberikan keterampilan. Inilah kemudian yang menjadi pemikiran pemerintah daerah, untuk mendorong sanggar pendidikan anak saleh.

Bukankah pada tahun 2006 Anda kembali mendapatkan anugerah aksara madya?

Ini memang cukup menarik, karena hanya enam dari kabupaten/kota se Indonesia yang memperoleh penghargaan seperti ini, termasuk Gowa. Itu dengan menggunakan indikator yang lebih tinggi lagi, di mana pembentukan kelembagaan pendidikan luar sekolah harus mencapai sampai pada tingkat kecamatan, ditambah pelekatan anggaran kurang lebih Rp10 M.

Untuk penghargaan yang ketiga ini, maka pembentukan kelembagaan harus pada tingkat desa, yang dikaitkan dengan pemberantasan buta aksara.

Gowa sendiri bagaimana?

Untuk Gowa kebetulan telah memiliki sistem kelembagaan melalui sanggar pendidikan anak saleh, dengan memberikan tanggung jawab masing-masing lembaga. Untuk SPAS, dikelola Dinas Pendidikan Nasional, diberikan tanggung jawab untuk melakukan pemberantasan pada usia produktif yang mencapai 23.177 orang. Dari jumlah itu telah kita lakukan pemberantasan 13.000 orang berarti sisanya 10.177 orang.

Sementara pemberantasan di luar buta aksara produktif, khususnya dasawisma prasejahtera itu dilakukan organisasi perempuan, partai politik dan lembaga.

Adakah persoalan yang Anda hadapi dalam penilaian yang kali ketiga ini?

Kalau mau dikatakan persoalan ya tidak juga. Sebab, dalam penilaian yang dilakukan oleh pusat waktu itu, saya sempat ditelepon oleh Pak Direktur, Jarwo, apakah data PLS dari Gowa belum ada. Walaupun kenyataannya sudah dikirim lewat pemerintah provinsi, apakah berkas itu lupa dikirim atau tidak, itu juga saya tidak tahu. Untungnya karena ada penonjolan yang siqnifikan dari Gowa berupa adanya SPAS.

Apakah Anda cukup puas dengan penghargaan ini?>/b>

Soal puas atau tidak itu kan relatif. Tapi kita masih mengupayakan untuk memperoleh penghargaan anugerah aksara paripurna.

Caranya bagaimana?

Indikatornya rupanya cukup berat. Kalau bicara soal kelembagaan saya kira kita sudah miliki mulai dari tingkat kecamatan hingga desa. Tapi pencapaiannya adalah semua usia produktif hingga tahun depan, 2008, semua usia produktif harus bebas buta aksara. Sementara di luar usia produktif, harus tinggal 5 persen. Lalu apakah kita bisa mencapai itu, saya kira insya Allah. Tapi saya kira kita harus optimis untuk menyelesaikannya.

Tapi apakah Anda melihat ada kedala untuk menekan buta aksara di luar produktif hingga 5 persen?

Umumnya mereka tidak mau belajar, sehingga perlunya ada metode baru, dengan cara memberikan life skill kemudian kita selipkan pemberantasan buta aksara. (arifuddin@fajar.co.id)


Nama : H Ichsan Yasin Limpo SH
Tempat/tanggal lahir : Makassar, 9 Maret 1961
Pendidikan : S1 Universitas Muslim Indonesia (UMI)
Riwayat Pekerjaan: * Anggota DPRD Sulawesi Selatan 1999 s/d 2004
* Anggota DPRD Sulawesi Selatan 2004 s/d 2005
* Bupati Gowa 2005 s/d 2010.
Istri : Hj Novita Madonza Amu Ichsan
Anak : * Sadli Nurjaffia Ichsan (26 November 1984, mahasiswa)
* Adnan Purichta Ichsan (9 Maret 1986, mahasiswa)
* Roidah Halilah Falih Ichsan (29 Oktober 1990, siswa)
* M Hauzan Nabhan Ichsan
(8 Januari 2002, pelajar)

Pelayanan Kesehatan dan Pendidikan Masih Dikeluhkan


Sungguminasa, Tribun - Pelayanan publik pada sektor kesehatan dan pendidikan di Kabupaten Gowa secara umum masih dikeluhkan oleh masyarakat. Pelayanan ini khusus pada sektor yang dibawah kendali pemerintah kabupaten.
Pada bidang kesehatan pelayanan yang menjadi keluhan terletak pada pelayanan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Sedangkan pada sektor pendidikan, keluhan terjadi pada pelayanan sekolah menengah atas (SMA).
Ha tersebut terungkap dari hasil survei Jaringan Kerja Pemerhati Pelayanan Publik Kabupaten Gowa (Jaker P3G) yang dipublikasikan dan dibahas pada talkshow di Baruga Karaeng Galesong, Selasa (30/10).
Talkshow hasil kerja sama Jaker P3G, LGSP-USAID, dan Radio Rewako Gowa FM ini menghadirkan pihak dari dinas kesehatan, dinas pendidikan, dan LGSP. Kegiatan yang disiarkan langsung Radio Rewako Gowa dibuka oleh Asisten III Abbas Alauddin dan diikuti LSM, pelajar, guru, dan tokoh masyarakat.
Team Leader Jaker P3G, Mohammad Hatta, mengungkapkan, pada pelayanan kesehatan responden mengaku puas dengan pelayanan puskesmas pembantu (pustu). Sedangkan pelayanan puskesmas masih dikeluhkan.
"Keluhan itu antara lain dokter tidak ada di tempat apalagi di dataran tinggi, obat yang mahal, dan pengguna JPS (jaring pengaman sosial) yang kurang terlayani," ungkapnya.
Hatta menambahkan, dari informasi di dinas kesehatan terkit JPS bugjet kadang terlalu tinggi karena beberapa pendata salah mendata. Beberapa kartu JPS bahkan salah sasaran. Pemberian JPS ini berdasarkan data dari BPS dan BKKBN.
Pendidikan
Sedangkan pada sektor pendidikan, Hatta mengaku, secara umum responden mengeluhkan pelayanan SMA. Keluhan itu terletak pada pembayaran yang dinilai masih terlalu mahal, kesempatan masuk SMA negeri yang kurang, serta sarana dan prasarana kurang memadai.
"Banyak masukan, antara lain bagaimana SMA didekatkan pada komunitas sehingga mudah terjangkau oleh jarak, peningkatan mutu pendidikan, dan juga peningkatan sarana dan prasarana," jelasnya.
Pada sesi tanya jawab, sejumlah peserta dan penelepon mengaku pelayanan publik belum maksimal. Staf pelaku pelayanan publik masih setengah hati memberikan layanan.
Salah seorang guru yang mengaku mewakili Muslimat NU, Farida, dalam sesi tanya jawab mengungkapkan, pelayanan publik di diknas perlu ditingkatkan.
"Kadang surat atau berkas yang kita bawa terkadang hilang. Satu contoh kasus waktu antar surat ke diknas, petugas di sana suruh simpan saja di lemari. Setelah dicek di hari berikutnya kita disuruh sendiri mencarinya," katanya.
Ditambahkan, sering kali dirinya mendapati guru dipinpong ke sana kemari oleh petugas. Ini menandakan tingkat kesadaran pentingnya pelayanan publik di level staf masih rendah.

Ujian Perdana Santri SPAS

Hari Ini Santri SPAS Ujian Perdana
Sungguminasa, Tribun -- Ujian perdana santri Sanggar Pendidikan Anak Saleh (SPAS) akhirnya dilaksanakan. Rencananya, ujian yang akan diikuti sekitar 500 santri SPAS se Kabupaten Gowa akan berlangsung di gedung SMKN 2 Somba Opu, Rabu (27/6) hari ini.
Ujian itu rencananya dipantau langsung Direktur Pendidikan Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Sujarwo, dan Direktur Kesetaraan Depdiknas, Ella Yulaelawati. Sementara Dirjen Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Ace Suryadi, yang ingin menyaksikan langsung belum pasti hadir.
"Pak Dirjen masih berada di Cina. Jika ia telah kembali dan punya waktu, maka akan langsung ke Gowa," kata Kepala Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Kabupaten Gowa, Idris Faisal Kadir, di ruang kerjanya, Senin (25/6).
Jumlah peserta ujian perdana ini, ungkap Idris, sebenarnya sekitar 700 orang. Namun, yang akan diikutkan ujian hanya 500 orang. Sisanya sekitar 200 orang tidak diuji karena dari putus sekolah menengah pertama (SMP).
Ujian SPAS ini setara SD, sehingga santri putus SMP tidak perlu lagi ikut ujian. Ujian ini sebenarnya bukan untuk mengukur kemampuan santri. Ujian dilakukan untuk melihat sejauh mana kemampuan tutor mentransfer ilmunya kepada santri yang diajarnya.
Rencananya tahun 2008 mendatang, pemerintah akan membuka rekruitmen untuk putus sekolah SMP. "Kita belum tahu apa namanya. Tapi diharapkan luarannya setara dengan lulusan SMP. Mungkin saja namanya tetap SPAS atau berubah," jelasnya.
Kedatangan direktur dari depdiknas itu, tambah Idris, sekaligus memantau pelaksanaan ujian pekat B setara SMP yang telah berlangsung sejak, kemarin. (ute)

Ijazah SPAS Akan setara paket A


Sungguminasa, Tribun -- Kurang lebih 700 santri Sanggar Pendidikan Anak Saleh (SPAS) se Kabupaten Gowa mengikuti ujian perdana di gedung Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN)1 Somba Opu, Jl Mesjid Raya, Sungguminasa, Rabu (27/6).
Ujian perdana ini dipantau langsung oleh Direktur Pendidikan Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Sujarwo, dan Direktur Kesetaraan Depdiknas, Ella Yulaelawati. Mereka juga memantau ujian paket B yang sementara berlangsung.
Kepala Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Gowa, Idris Faisal Kadir, mengatakan, kehadiran dua direktur depdiknas itu sekaligus melakukan penilaian hasil evaluasi. Ujian dilakukan secara tertulis.
"Hasil evaluasi itu akan jadi acuan apakah ijazah SPAS bisa disetarakan dengan ujian paket A setara sekolah dasar (SD) atau tidak. Hasil ujiannya akan langsung diperiksa," jelasnya sebelum pelaksanaan ujian berlangsung, kemarin.
Semula, santri yang akan ikut ujian hanya sekitar 500 orang karena sekitar 200 orang adalah anak putus sekolah menengah pertama (SMP). Namun, santari dari anak putus SMP itu akhir diikutkan juga ujian karena beberapa pertimbangan.
Pendidikan Gratis
SPAS merupakan program pendidikan alternatif bagi anak-anak usia produktif. SPAS memberikan bimbingan dengan penekanan pada perbaikan akhlak dan nilai-nilai agama serta budaya. Muatan agama diberikan sekitar 60 persen dan selebihnya pengetahuan umum.
Siswa direkrut secara gratis dari anak keluarga kurang mampu, terbelakang di sekolahnya, dan anak-anak putus sekolah. SPAS juga diharapkan menjadi sarana perpustakaan bagi desa karena sejumlah buku telah disiapkan di gedung SPAS. (ute)

23 November 2007

Sambutan Bupati Gowa " H.Ichsan Yasin Limpo, SH "

PADA PERESMINAN SANGGAR PENDIDIKAN ANAK SALEH

Assalamu Alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh

Pertama-tama, marilah kita memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, atas limpahan Rahmat dan Izin-Nya, sehingga kita dapat berkumpul menghadiri Kunjungan Kerja Pemerintah Kabupaten Gowa dalam rangka pengukuhan pengelola SPAS, Peresmian pemakaian gedung SPAS, Pemberian subsidi buku wajib SD dari keluarga tidak mampu

Dengan peresmian SPAS dan Pengukuhan Pengelolanya ini, maka secara beruntun telah di ujicoba operasionalisasi SPAS di beberapa Kecamatan yang dimulai sejak tanggal 6 Mei 2006 lalu, ditandai dengan kehadiran Dirjen PLS dalam peresmian uji coba SPAS dan pencanangan pemberantasan buta aksara Kabupaten Gowa.

Hal ini sangat membanggakan saya yang tadinya pada kontrak politik saya 126.824 orang siswa SD yang kurang mampu, Alhamdulillah terpenuhi menjadi 36.270 orang di seluruh Kabupaten Gowa. Pemberian bantuan TKA/TPA yang merupakan kegiatan suplemen terhadap keberadaan SPAS, sekaligus sebagai gambaran kesungguhan kita untuk penuntasan program wajib baca tulis Al-Qur'an di setiap Desa / Kelurahan (sebagai upaya nyata pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2003 tentang Kewajiban Baca Tulis Al - Quran bagi Anak Sekolah Dasar, dimana bagi siswa SD yang tergolong tidak mampu harus lulus uji untuk lanjut pendidikan kejenjang selanjutnya

Acara pada hari ini memiliki momentum yang sangat berarti mengingat bahwa dua dari tiga jenis kegiatan yang tertuang dalam KontrakPolitik Tahun 2006 yang saya lakukan bersama Wakil Bupati dengan DPRD Kabupaten Gowa telah dilaksanakan di wilayah ini. Dengan dilakukannya rangkaian kegiatan dapat mendorong peningkatan nilai pendidikan dan paritas daya beli masyarakat di masing- masing Kecamatan, yang selanjutnya secara bersama - sama dengan Kecamatan lainnya akan meningkatkan nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Gowa yang sampai saat ini masih bertengger pada rangking 12 dari seluruh Kabupaten Kota se Provinsi Sulawesi Selatan.